sport77 – Manchester City menghadapi salah satu periode paling menentukan dalam sejarah modern klub. Premier League pada 29 September 2026 mengumumkan bahwa komisi independen menemukan City bersalah atas seluruh dakwaan yang berkaitan dengan pelanggaran serius aturan finansial selama periode sembilan musim, serta mayoritas dakwaan mengenai kegagalan bekerja sama dengan investigasi liga.
Keputusan tersebut langsung memunculkan pertanyaan besar mengenai hukuman yang bisa diterima The Citizens. Denda, pengurangan poin, hingga kemungkinan City kehilangan tempatnya di Premier League menjadi bagian dari pembicaraan, meskipun sampai 1 Oktober 2026 sanksi belum diputuskan. Premier League menegaskan persoalan hukuman akan dibahas secara terpisah dalam sidang lanjutan.
Situasi itu juga membawa perhatian kepada Erling Haaland dan sederet bintang City. Apabila skenario terburuk terjadi dan klub harus meninggalkan Premier League, secara sporting akan mudah membayangkan sejumlah pemain mempertimbangkan masa depan mereka.
Masalahnya, meninggalkan Etihad Stadium tidak sesimple mengemasi koper. Kontrak tetap mempunyai kekuatan, dan khusus untuk Haaland, kesepakatan jangka panjangnya justru membuat situasi semakin complicated.
Manchester City Dinyatakan Bersalah atas Pelanggaran Finansial

Kasus ini berakar pada lebih dari 100 dakwaan yang diajukan Premier League kepada Manchester City pada Februari 2023. Setelah proses panjang dan sidang komisi independen yang berlangsung selama 42 hari hingga Desember 2024, keputusan intinya akhirnya diumumkan Premier League pada 29 September 2026.
Menurut Premier League, komisi menemukan bahwa antara musim 2009/2010 hingga 2017/2018, City mengatur kontrak yang disebut sebagai sham contracts dengan sejumlah mitra komersial. Komisi menyimpulkan pengaturan tersebut digunakan untuk meningkatkan pendapatan klub secara artifisial dan mengurangi biaya yang dilaporkan.
Premier League mengatakan skema tersebut membuat pendapatan City terlihat lebih tinggi dan biaya lebih rendah dengan nilai gabungan lebih dari £900 juta. Komisi juga menemukan City menyerahkan laporan keuangan yang tidak menggambarkan keadaan finansial klub secara akurat dan menyembunyikan kondisi sebenarnya dari auditor serta regulator sepak bola.
Komisi selanjutnya menyimpulkan bahwa apabila berbagai kesepakatan tersebut dilaporkan secara akurat, City akan melanggar batas pengeluaran Premier League dan UEFA dalam jumlah yang sangat signifikan. Tiga dari empat dakwaan mengenai kegagalan bekerja sama dan bertindak dengan itikad baik dalam investigasi juga dinyatakan terbukti.
Inilah pertanyaan paling besar setelah keputusan diumumkan. Jawabannya saat ini: degradasi merupakan salah satu kemungkinan, tetapi Manchester City belum resmi terdegradasi.
Premier League menjelaskan bahwa sidang mengenai sanksi akan dilakukan secara terpisah dan berlangsung secara tertutup. Dengan demikian, keputusan mengenai pelanggaran dan keputusan mengenai punishment merupakan dua tahap yang berbeda.
Sky Sports menjelaskan salah satu jalan yang dapat membuat City terdegradasi adalah pengurangan poin dalam jumlah cukup besar sehingga mereka finis di zona degradasi. Selain itu, terdapat perbedaan antara degradasi karena posisi klasemen setelah points deduction dengan pengeluaran atau expulsion dari Premier League.
Tidak ada preseden yang benar-benar identik dengan kasus City karena skala dan karakter pelanggarannya berbeda. Itu membuat besarnya punishment sulit diprediksi secara reliable sebelum komisi menyelesaikan tahap sanksi.
Jadi, headline “Manchester City terancam terdegradasi” menggambarkan risiko yang ada, bukan keputusan final. Status klub untuk saat ini tetap sebagai anggota Premier League.
Manchester City tidak menerima kesimpulan komisi tersebut. Dalam pernyataan resminya, klub mengatakan kecewa dan terkejut terhadap keputusan yang dipublikasikan Premier League.
City mempertahankan posisi bahwa klub tidak bersalah. Mereka menyatakan mempunyai kumpulan bukti yang mereka sebut tidak terbantahkan untuk mendukung posisi klub dan akan menggunakan jalur regulasi maupun hukum yang tersedia.
City juga menyatakan akan menempuh proses banding karena menilai keputusan mengandung kesalahan material dalam hukum, prinsip, dan fakta. Premier League memberi klub tenggat hingga Jumat, 2 Oktober 2026 untuk menggunakan hak bandingnya.
Artinya, kasus belum mencapai finish line. Bahkan setelah komisi independen memberikan keputusan mengenai pelanggaran, masih ada proses banding serta sidang mengenai sanksi yang dapat menentukan nasib akhir City.
Erling Haaland menjadi nama yang paling banyak dibicarakan karena statusnya sebagai salah satu pemain utama Manchester City. Pertanyaan yang muncul cukup obvious: apakah striker Norwegia itu dapat langsung pergi jika City terdegradasi?
Jawabannya tampaknya tidak.
Haaland menandatangani kontrak baru berdurasi sembilan setengah tahun pada Januari 2025. Kesepakatan tersebut mengikatnya dengan Manchester City hingga musim panas 2034.
Ketika kontrak tersebut ditandatangani, Sky Sports News melaporkan kesepakatan baru Haaland tidak mempunyai release clause. Klausul pelepasan yang terdapat dalam kontrak sebelumnya disebut telah dihapus.
Laporan terbaru setelah perkembangan kasus finansial City juga menyebut Haaland tidak mempunyai klausul khusus yang membuatnya otomatis bebas atau dapat pergi dengan harga tertentu apabila klub terdegradasi.
Itu menjadi detail yang sangat important.
Haaland Tak Bisa Sekadar Pergi secara Gratis

Tidak adanya relegation clause berarti kontrak Haaland tidak otomatis batal hanya karena Manchester City kehilangan status Premier League. Selama kontrak tetap berlaku, City masih mempunyai hak registrasi dan ekonomi atas pemain tersebut.
Jika Haaland ingin pindah sebelum kontraknya berakhir, secara normal klub peminat harus mencapai kesepakatan transfer dengan Manchester City. Alternatif lain hanya dapat muncul jika terdapat ketentuan kontraktual lain yang relevan atau kedua pihak sepakat mengakhiri hubungan mereka.
Dengan kontrak hingga 2034, bargaining position City secara teori sangat kuat. Mereka tidak berada dalam situasi pemain tinggal memiliki satu tahun kontrak sehingga terpaksa menerima harga rendah untuk menghindari kehilangan pemain secara gratis.
Pada Juni 2026, City bahkan secara terbuka membantah klaim dari Spanyol mengenai adanya klausul yang memungkinkan Haaland pindah. Seorang juru bicara klub mengatakan tidak terdapat klausul kontraktual yang memungkinkan skenario yang diklaim tersebut.
Karena itu, bahkan dalam skenario degradasi, Haaland tidak otomatis menjadi free agent.
Haaland bukan satu-satunya pemain yang situasinya menjadi perhatian. Skuad Manchester City tetap berisi sejumlah pemain bernilai tinggi yang terikat kontrak dengan klub.
Pertanyaan mengenai klausul degradasi menjadi particularly relevant karena kontrak pemain sepak bola profesional dapat memuat ketentuan berbeda. Beberapa pemain mungkin mempunyai klausul tertentu mengenai gaji atau transfer ketika klub turun divisi, sedangkan pemain lainnya tidak.
Laporan terbaru menyebut City telah menghabiskan dana sangat besar dalam proses rebuild skuad meskipun kasus Premier League sudah menjadi background selama beberapa tahun. Mirror melaporkan pemain-pemain yang direkrut dalam pembangunan skuad tersebut tidak memasukkan klausul degradasi yang akan memberikan jalan keluar otomatis.
Namun, kontrak individual umumnya bersifat privat. Karena itu, detail setiap pemain harus dibedakan dari laporan mengenai Haaland yang lebih banyak dikonfirmasi oleh berbagai sumber.
Yang jelas, degradasi klub tidak secara universal membuat semua kontrak pemain otomatis batal.
Mengapa Pemain Tidak Memasukkan Klausul Degradasi?
Secara hindsight, situasinya mungkin terlihat surprising. City sudah menghadapi kasus Premier League sejak 2023, tetapi klub tetap mampu merekrut dan mempertahankan pemain elite tanpa memberikan mereka automatic escape route apabila terjadi degradasi.
Salah satu konteksnya adalah Manchester City secara konsisten membantah dakwaan Premier League. Klub sejak awal mengatakan memiliki bukti kuat untuk mendukung posisinya dan menyambut pemeriksaan oleh komisi independen.
City juga tetap menjadi salah satu klub dengan kemampuan finansial, fasilitas, dan ambisi sporting terbesar di Eropa. Kasus tersebut tidak menghentikan klub menjalankan strategi jangka panjang, termasuk memberikan kontrak sembilan setengah tahun kepada Haaland pada Januari 2025.
Kontrak panjang tersebut merupakan statement yang cukup jelas mengenai confidence klub terhadap masa depan. Haaland sendiri pada akhirnya menyetujui kesepakatan sampai 2034 tanpa release clause yang diketahui publik.
Kini, setelah keputusan komisi independen, risiko yang sebelumnya bersifat hypothetical menjadi jauh lebih tangible.
Secara kontraktual, City dapat mempertahankan Haaland selama kontraknya berlaku. Tetapi football reality bisa berbeda dari legal reality.
Jika klub benar-benar turun dari Premier League, pertanyaan berikutnya adalah apakah mempertahankan pemain dengan gaji tinggi dan market value besar tetap masuk akal secara finansial maupun sporting. Pendapatan broadcast, sponsorship, bonus kompetisi, dan peluang bermain di turnamen Eropa dapat berubah secara drastis tergantung bentuk sanksi yang akhirnya diberikan.
Bagi pemain, bermain di level tertinggi juga mempunyai value tersendiri. Haaland mengejar trofi, rekor, dan pencapaian individu yang sangat terkait dengan kompetisi elite.
Karena itu, jika skenario degradasi benar-benar terjadi, negosiasi antara City, pemain, agen, dan klub peminat bisa menjadi jauh lebih complicated. Namun, “ingin pergi” tidak sama dengan “bebas pergi”.
Ada satu distinction yang penting. Tidak mempunyai klausul degradasi bukan berarti pemain pasti akan bertahan.
Manchester City sendiri dapat memutuskan bahwa menjual beberapa pemain merupakan keputusan paling rational jika klub menghadapi penurunan pendapatan atau perubahan status kompetisi. Dalam situasi tersebut, transfer dapat terjadi melalui negosiasi normal.
Klub peminat harus mengajukan penawaran. City kemudian menentukan apakah nilai tersebut dapat diterima.
Untuk pemain dengan kontrak panjang seperti Haaland, City secara teori mempunyai ruang lebih besar untuk menentukan harga. Mereka tidak dipaksa kontrak untuk melepasnya hanya karena turun divisi.
Namun, mempertahankan superstar yang tidak ingin bermain di kompetisi lebih rendah juga dapat menciptakan masalah tersendiri. Manajemen klub harus mempertimbangkan sporting project, struktur gaji, kondisi ruang ganti, serta keinginan pemain.
Kontrak Haaland hingga 2034 Jadi Pedang Bermata Dua
Kontrak panjang Haaland sebelumnya dipandang sebagai massive win bagi Manchester City. Klub berhasil mengamankan salah satu striker paling produktif di dunia sampai usia awal 30-an.
Kesepakatan tersebut juga menghilangkan uncertainty mengenai release clause yang sebelumnya sering menjadi bahan spekulasi. Dengan kontrak hingga 2034, City mendapatkan kontrol jangka panjang terhadap masa depan sang striker.
Dalam situasi normal, itu merupakan posisi yang sangat menguntungkan.
Tetapi jika City menerima sanksi ekstrem, kontrak panjang dapat menciptakan dynamic berbeda. Haaland tidak mempunyai jalan keluar otomatis, sedangkan klub mungkin harus mempertimbangkan apakah mempertahankannya tetap sustainable.
Di situlah negosiasi dapat menjadi interesting. City memiliki kontrak, pemain memiliki sporting ambition, dan klub-klub elite Eropa berpotensi melihat opportunity.
Pembahasan kasus Manchester City sering mencampurkan dua istilah: relegation dan expulsion. Padahal keduanya tidak selalu berarti hal yang sama.
Sky Sports menjelaskan City dapat terdegradasi apabila mendapat pengurangan poin yang cukup besar sehingga posisi mereka pada klasemen membuat klub turun ke Championship. Sementara expulsion berarti City tidak lagi menjadi anggota Premier League.
Jika terjadi expulsion, pertanyaan mengenai liga mana yang menerima City berikutnya menjadi lebih complicated. Hal itu melibatkan struktur kompetisi dan aturan EFL, bukan semata keputusan Premier League.
Karena belum ada punishment final, terlalu dini mengatakan City pasti akan bermain di Championship pada musim berikutnya.
Yang diketahui sekarang adalah komisi telah menemukan pelanggaran serius. Bentuk konsekuensinya masih harus ditentukan.
Kasus Disebut Premier League sebagai yang Paling Signifikan

Chief Executive Premier League Richard Masters menggambarkan perkara Manchester City sebagai kasus disipliner paling signifikan dalam sejarah Premier League.
Menurut Masters, keputusan inti komisi menetapkan fakta mengenai apa yang terjadi selama periode yang diperiksa. Premier League mengatakan penegakan aturan diperlukan untuk melindungi integritas dan fairness kompetisi.
Komisi menemukan adanya pengaturan yang membuat pendapatan dan biaya City dilaporkan berbeda dari keadaan sebenarnya. Nilai lebih dari £900 juta yang disebut Premier League menunjukkan mengapa kasus ini dianggap berada dalam scale yang tidak biasa.
Namun, City secara tegas menolak kesimpulan tersebut dan menyatakan keputusan tidak aman karena menurut klub terdapat kesalahan material. Posisi kedua pihak kini akan kembali diuji melalui proses berikutnya.
Pertanyaan lain yang muncul adalah nasib trofi yang dimenangkan City selama periode terkait.
Saat ini belum ada keputusan bahwa gelar Premier League Manchester City akan dicabut. Premier League juga belum mengumumkan bentuk sanksi apa pun pada tahap ini.
Periode pelanggaran yang ditetapkan komisi mencakup musim 2009/2010 sampai 2017/2018. Selama rentang tersebut City mengalami transformasi besar menjadi kekuatan dominan sepak bola Inggris dan memenangkan sejumlah trofi.
Tetapi hubungan antara pelanggaran dan konsekuensi terhadap gelar merupakan persoalan tersendiri. Tidak tepat menganggap gelar otomatis dibatalkan hanya karena komisi telah menemukan pelanggaran finansial.
Fokus proses saat ini adalah banding terhadap keputusan serta penentuan sanksi.
Tahap pertama adalah proses banding Manchester City. Klub telah menyatakan akan menggunakan jalur tersebut dan Premier League memberikan tenggat sampai Jumat, 2 Oktober 2026.
Secara terpisah, komisi independen akan menggelar sidang untuk menentukan punishment. Premier League mengatakan hearing tersebut bersifat privat dan confidential sampai hasilnya diizinkan untuk dipublikasikan.
Artinya, terdapat dua storyline yang berjalan: apakah keputusan mengenai pelanggaran dapat dipertahankan setelah banding, serta punishment apa yang dianggap proporsional apabila pelanggaran tersebut tetap berlaku.
Premier League menyatakan ingin seluruh proses, termasuk banding dan publikasi keputusan terkait, diselesaikan secepat mungkin.
Sampai proses tersebut selesai, berbagai skenario—dari hukuman finansial sampai sporting sanction yang sangat berat—masih harus diperlakukan sebagai kemungkinan, bukan hasil final.
Haaland dan Bintang City Tidak Punya Tombol “Exit” Otomatis
Bagi Erling Haaland, satu detail kontrak menjadi particularly significant: tidak ada tombol emergency exit yang diketahui publik hanya karena Manchester City turun kasta.
Kontrak sampai 2034 memberikan City kontrol yang sangat panjang. Sky Sports sebelumnya melaporkan kesepakatan tersebut tidak mempunyai release clause, sementara laporan setelah perkembangan kasus terbaru juga menyebut tidak terdapat relegation release clause.
Jadi, apabila punishment akhirnya membuat City keluar dari Premier League, Haaland tidak otomatis dapat menandatangani kontrak dengan Real Madrid, Barcelona, Bayern Munich, Paris Saint-Germain, atau klub lain secara gratis.
Transfer tetap membutuhkan proses. City dan klub peminat harus bernegosiasi kecuali muncul mekanisme kontraktual atau kesepakatan lain yang mengubah situasi.
Hal serupa secara prinsip dapat berlaku pada pemain City lainnya yang tidak mempunyai klausul degradasi. Kontrak mereka tidak menghilang hanya karena status liga klub berubah.
Walaupun pemain tidak bisa “kabur” begitu saja, potensi degradasi tetap dapat menciptakan salah satu transfer domino terbesar dalam sejarah sepak bola.
Klub-klub elite Eropa secara natural akan memperhatikan pemain City apabila sporting situation berubah secara drastis. Pemain pun dapat meminta pembicaraan mengenai masa depan apabila kompetisi yang dapat diikuti klub tidak lagi sesuai dengan ambition mereka.
City kemudian menghadapi pilihan. Mereka bisa mempertahankan core squad untuk mencoba kembali secepat mungkin atau menjual sejumlah aset bernilai tinggi untuk menyesuaikan struktur finansial.
Haaland tentu akan menjadi pusat perhatian karena kombinasi usia, produktivitas, dan panjang kontraknya.
Namun, semua scenario tersebut baru relevant jika sanksi berat benar-benar dijatuhkan dan bertahan setelah proses hukum internal selesai.
Manchester City Belum Terdegradasi, Haaland Juga Belum Pergi
Situasi Manchester City memang berubah dramatically setelah pengumuman Premier League pada 29 September 2026. Ini bukan lagi sekadar perkara 115 dakwaan yang menunggu verdict. Komisi independen telah menemukan City bersalah atas pelanggaran finansial serius dan mayoritas dakwaan mengenai kegagalan bekerja sama.
Namun, dua hal harus dibuat crystal clear: Manchester City belum dijatuhi hukuman degradasi dan Erling Haaland belum menuju pintu keluar Etihad Stadium.
City sedang mempersiapkan banding dan sidang terpisah masih diperlukan untuk menentukan punishment. Sampai keputusan tersebut muncul, tidak ada kepastian bahwa City akan turun kasta.
Jika skenario ekstrem itu akhirnya terjadi, masalah berikutnya justru semakin fascinating. Haaland terikat sampai 2034 tanpa release clause yang diketahui, sementara pemain lain juga dilaporkan tidak mempunyai jalan keluar otomatis karena degradasi.
Mereka mungkin ingin pergi. Klub-klub lain mungkin ingin membelinya. City sendiri mungkin akhirnya memilih menjual.
Tetapi satu hal berbeda dari sekadar transfer rumor: kontrak masih berlaku.
Dan karena itulah, jika Manchester City benar-benar kehilangan tempat di Premier League, drama terbesar mungkin bukan hanya tentang di liga mana mereka akan bermain—tetapi juga bagaimana klub menangani skuad superstar yang secara kontraktual tidak bisa begitu saja meninggalkan Etihad.
Referensi
- Premier League, “Premier League Statement: Manchester City FC,” 29 September 2026. Pernyataan resmi mengenai keputusan komisi, temuan pelanggaran, tahap sanksi, dan hak banding Manchester City.
- Manchester City FC, “Club Statement,” September 2026. Pernyataan resmi klub yang menolak kesimpulan komisi dan mengonfirmasi rencana menempuh banding.
- Sky Sports, “Man City Premier League charges: Appeal process, punishment hearing and what happens now after guilty verdict,” 30 September 2026. Penjelasan mengenai kemungkinan sanksi, points deduction, degradasi, dan expulsion.
- Sky Sports, laporan kontrak baru Erling Haaland, 17 Januari 2025. Haaland menandatangani kontrak hingga 2034 dan kesepakatan tersebut dilaporkan tidak memiliki release clause.
- Sky Sports, laporan Juni 2026 mengenai spekulasi transfer Haaland. Manchester City membantah adanya klausul kontrak yang memungkinkan transfer seperti yang diklaim dari Spanyol.
- TNT Sports, laporan September 2026 mengenai kontrak Haaland dan tidak adanya relegation release clause.
- CBS Sports, laporan 29 September 2026 mengenai keputusan komisi dan kemungkinan sanksi terhadap Manchester City.
- The Guardian, laporan 29 September 2026 mengenai keputusan komisi independen dan temuan finansial Manchester City.

Tinggalkan Balasan